Optimalisasi Sumur Rakyat dan Development Drilling Program sebagai Pendorong Lifting Migas Sumatera pada 2026
Harga minyak global yang terus menurun sepanjang tahun 2025 menekan lapangan usaha minyak dan gas (migas). Kondisi ini disebabkan oleh pasokan minyak global yang terus berlimpah akibat peningkatan jumlah produksi dari produsen utama minyak dunia. Amerika Serikat mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah pada akhir tahun 2025. Produksi minyak Timur Tengah dan Afrika Utara juga terus meningkat yang berimplikasi pada kondisi oversupply pasokan. Hal ini semakin diperparah oleh laju pertumbuhan permintaan yang tertinggal dibandingkan pertumbuhan produksi.Sementara itu, harga gas dunia cenderung lebih fluktuatif pada tahun 2025. Harga gas mengalami penurunan hingga pertengahan tahun 2025 akibat persediaan gas dunia yang berlebih, tetapi kembali meningkat menjelang akhir tahun 2025 dengan meningkatnya permintaan global seiring masuknya musim dingin di sebagian negara. Cuaca yang lebih dingin pada akhir tahun 2025 membuat kebutuhan gas untuk pemanas melonjak. Siklus cuaca tahunan mendorong harga pulih ke level awal tahun 2025.
Pulau Sumatera, sebagai wilayah dengan penguasaan hampir 50% produksi migas, juga turut terdampak perubahan harga migas. Ekspor minyak di wilayah Sumatera terus menurun dengan margin keuntungan yang diterima oleh kontraktor terus menipis akibat harga yang turun sepanjang tahun 2025. Pada tahun 2026, kinerja ekspor minyak diprakirakan tumbuh lebih baik daripada tahun 2025, di tengah prospek proyeksi permintaan minyak global yang lebih kuat. Ekspor gas juga berpotensi lebih tinggi meskipun tidak terlalu signifikan, sejalan dengan prospek penguatan harga gas dunia.
Di sisi suplai juga terdapat perkembangan positif yang didukung faktor kebijakan, yakni dukungan pada reaktivasi sumur idle dan sumur tua melalui program sumur rakyat. Hal ini menjadi potensi sumber ekonomi baru di wilayah Sumatera. Sumur rakyat yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), koperasi, usaha mikro, usaha kecil, atau usaha menengah dinilai efektif dalam mengurangi aktivitas tambang ilegal dan dapat dijadikan pendapatan daerah secara resmi oleh pemerintah daerah setempat. Melalui optimalisasi sumur, hasil dari peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dapat mengimbangi penurunan transfer ke daerah dan akan menopang kinerja pertumbuhan ekonomi daerah. Hingga akhir 2025, tercatat sekitar 39 ribu hingga 40 ribu sumur rakyat di wilayah Sumatera yang dapat dioptimalkan produksinya. Namun, aspek tata kelola yang mencakup good engineering practices, keselamatan dan kesehatan kerja, serta pengelolaan lingkungan hidup menjadi tantangan yang harus dipenuhi pengelola. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara BUMD/Koperasi/UMKM dengan kontraktor serta pemerintah daerah setempat dalam mengelola sumur rakyat potensial.
Kinerja lifting minyak sendiri diprakirakan meningkat pada tahun 2026. Meski demikian, tantangan untuk mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per hari cukup berat. Peningkatan ini didorong oleh proyek-proyek onstream serta upaya perlambatan natural declining pada sumur tua melalui Development Drilling Program. Lifting gas juga diprakirakan meningkat, didorong oleh insentif ekonomi dari kenaikan harga gas dunia serta beberapa proyek onstream di wilayah Sumatera tahun 2025.



