Sumatra Economic Review
Ekonomi Sumatera di Bayangi Dampak Bencana pada Akhir 2025
Edisi : Februari 2026
Kondisi Makroekonomi
Perekonomian Sumatera mengalami perlambatan pada Triwulan IV-2026 sebagai dampak bencana di Sumatera bagian Utara, yang memengaruhi kinerja konsumsi rumah tangga dan konsumsi, di tengah konsolidasi konsumsi pemerintah. Dukungan ke PDRB berasal dari kinerja net ekspor.
Pertumbuhan ekonomi Sumatera pada Tw IV-25 tercatat sebesar 4,54% (yoy), lebih rendah dibandingkan Tw III-25 (4,90% (yoy). Bencana alam akibat Siklon Senyar di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat berdampak pada perlambatan konsumsi rumah tangga akibat dari hilangnya pendapatan dan tertahannya konsumsi ditengah seasonal HBKN Nataru. Aktivitas investasi bangunan terganggu adanya bencana dan cuaca ekstrem. Konsumsi pemerintah turut tertahan dengan adanya bencana, di tengah ekspansi sejumlah program prioritas pemerintah. Namun, net ekspor tumbuh kuat di atas prakiraan, khususnya dari kinerja migas dengan produksi sumur baru.
Dari sisi lapangan usaha, LU Pertanian, Industri, dan Konstruksi menjadi sumber pelemahan ekonomi Sumatera pada Tw IV-25. Kinerja LU Pertanian terdampak bencana dengan adanya lahan puso, penurunan produktivitas dan penundaan masa tanam. LU Industri terkendala di rantai pasok bahan baku komoditas SDA akibat bencana, sementara terganggunya proyek fisik menahan kinerja LU Konstruksi. Di sisi lain, kinerja LU Pertambangan menguat, sementara LU PBE dan Akmamin didukung perdagangan ekspor-impor, mobilitas saat HBKN Nataru, serta program MBG.

Di tengah tantangan dari bencana, anomali iklim dan permintaan musiman HBKN, sebagian besar daerah di Wilayah Sumatera mencatatkan deflasi secara bulanan pada Januari 2026. Deflasi utamanya bersumber dari kelompok bahan makanan, seiring peningkatan pasokan komoditas holtikultura seperti cabai dan bawang merah dari hasil panen di daerah sentra dan kelancaran distribusi pangan. Berlanjutnya pemulihan pasca bencana, baik di lahan pertanian maupun infrastruktur distribusi pangan, mendukung upaya menjaga ketersediaan pasokan pada periode HBKN Imlek dan Lebaran 2026. Berbagai upaya pengendalian inflasi terus didukung melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD), operasi pasar serta fasilitasi kemitraan dalam penyediaan pasokan.
Untuk informasi lengkap, silakan tab file terlampir di sini:




