Banjir di Sumatera: Lahan Puso dan Dampaknya terhadap Lapangan Usaha Pertanian
Pulau Sumatera merupakan salah satu lumbung pangan nasional, khususnya untuk komoditas padi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Sumatera dihadapkan pada tantangan alam. Intensitas bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor meningkat signifikan, yang berdampak signifikan pada sektor pertanian. Bencana terakhir pada akhir 2025 memicu gagal panen (puso) di ribuan hektar lahan pertanian. Hal ini tidak hanya menekan produksi pangan, tetapi juga mengganggu keberlanjutan lapangan usaha pertanian di wilayah perdesaan. Ketiga provinsi yang paling terdampak adalah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Meluasnya lahan puso di ketiga provinsi tersebut menimbulkan efek berantai pada kinerja pertanian dan ketahanan pangan regional. Penurunan hasil panen menyebabkan pendapatan petani tertekan, yang berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga perdesaan. Aktivitas ekonomi pendukung mulai dari penyedia benih dan pupuk, jasa alat dan mesin pertanian, hingga penggilingan padi, turut melemah. Selain itu, buruh tani harian menjadi kelompok paling rentan karena berkurangnya hari kerja akibat terganggunya siklus tanam dan panen. Secara regional, akumulasi lahan puso di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berpotensi menurunkan pasokan beras dan meningkatkan kerentanan ketahanan pangan Sumatera. Volatilitas harga beras maupun komoditas pangan strategis dapat terakumulasi antarwilayah, dengan mempertimbangkan ketergantungan rantai pasok antara ketiga daerah tersebut dengan wilayah lain di Sumatera.
Adapun karakteristik dampak bencana di tiga provinsi terindikasi berbeda. Pertama, Aceh kerap mengalami banjir musiman yang berulang—terutama di wilayah dataran rendah dan sepanjang daerah aliran sungai—sering terjadi pada fase kritis tanaman padi, sehingga meningkatkan risiko puso. Di Sumatera Utara, kombinasi curah hujan tinggi, kerusakan jaringan irigasi, dan alih fungsi lahan memperbesar kerentanan sawah terhadap genangan berkepanjangan. Sementara itu, Sumatera Barat menghadapi tantangan ganda berupa banjir dan longsor akibat topografi berbukit, yang tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi dan akses jalan produksi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga mencatat bahwa sebagian besar kejadian puso di Sumatera berkorelasi kuat dengan banjir musiman, sehingga pengendalian risiko bencana menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas produksi pangan.
Upaya penanganan lahan puso di Sumatera perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Untuk Aceh dan Sumatera Utara, prioritas kebijakan mencakup penguatan dan rehabilitasi jaringan irigasi serta pengendalian banjir di daerah hilir. Sementara Sumatera Barat, mitigasi longsor dan perlindungan lahan pertanian di kawasan berbukit menjadi krusial. Selain itu, penerapan varietas padi tahan genangan, penyesuaian kalender tanam berbasis prakiraan iklim, serta penguatan asuransi usaha tani dapat membantu menjaga keberlanjutan lapangan usaha pertanian pascabencana.
Ke depan, pemulihan dari lahan puso akibat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi prioritas. Kecepatan pemulihan atau rehabilitasi lahan pertanian akan berdampak langsung pada kinerja pertanian dan ketahanan pangan regional Sumatera. Selain itu, dibutuhkan intervensi mitigasi dan adaptasi terhadap iklim (cuaca ekstrem) yang lebih konkrit, terarah serta berkelanjutan guna mengantisipasi risiko semakin besarnya kehilangan produksi dan pendapatan petani. Sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah, penguatan infrastruktur pertanian, serta peningkatan kapasitas adaptasi petani terhadap iklim menjadi kunci untuk membangun sektor pertanian Sumatera yang lebih tangguh terhadap bencana.



