Dari Gabah ke Beras Lebih Optimal: Kunci Dongkrak Produktivitas Padi Sumatera Lewat Optimalisasi Hulu–Hilir

Produktivitas padi di Sumatera masih menghadapi tantangan pada efisiensi proses dari hulu hingga hilir. Hal ini tercermin dari masih rendahnya tingkat rendemen giling, yakni persentase beras yang dihasilkan dari gabah kering giling (GKG), salah satu indikator utama kinerja rantai produksi beras.

 

Saat ini, rendemen padi di Sumatera rata-rata berada di kisaran 63,5%, lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar 64,02%. Angka ini juga masih di bawah standar ideal. Menurut International Rice Research Institute (IRRI), rendemen penggilingan padi dalam praktik yang baik dapat mencapai sekitar 65%, bahkan berpotensi hingga 69–70% tergantung varietas dan kualitas proses pengolahan. Kesenjangan ini menunjukkan masih adanya kehilangan hasil yang cukup besar, terutama pada tahap pasca panen dan penggilingan. Pola yang relatif seragam antar provinsi mengindikasikan bahwa persoalan ini bersifat struktural [Gambar 1 dan Grafik 1].

Dari sisi hulu (on-farm), kualitas gabah menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan tingkat rendemen. Salah satu aspek pentingnya adalah penggunaan pupuk kalium yang berperan dalam meningkatkan kepadatan bulir dan kualitas gabah. Namun, penggunaannya masih terbatas di kalangan petani karena harganya yang relatif tinggi dan belum menjadi bagian dalam skema pupuk subsidi [Grafik 2]. Akibatnya, kualitas bahan baku yang masuk ke proses penggilingan belum optimal.

Di sisi hilir (off-farm), proses pengeringan menjadi salah satu titik kritis. Mayoritas petani masih mengandalkan metode penjemuran tradisional yang bergantung pada cuaca, sehingga menghasilkan kadar air gabah yang tidak seragam. Kondisi ini meningkatkan risiko kerusakan butir dan kehilangan hasil saat penggilingan. Keterbatasan dryer modern (mekanisasi) masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Sebagai ilustrasi, di Sumatera Barat pada tahun 2014, kapasitas dryer hanya mampu mengakomodasi sekitar 10% dari total produksi gabah bulanan, sementara produksi GKG mencapai sekitar 132 ribu ton per bulan. Artinya, sebagian besar gabah masih diproses dengan metode tradisional atau penjemuran di bawah sinar matahari.

Pada sisi penggilingan, salah satu faktor kunci yang memengaruhi rendemen adalah konfigurasi mesin pada Rice Milling Unit (RMU). Saat ini, lebih dari 95% RMU di Sumatera masih berskala kecil dengan konfigurasi sederhana, umumnya hanya terdiri dari husker (H) dan polisher (P). Konfigurasi dasar ini memiliki keterbatasan karena proses penggilingan dilakukan tanpa tahap pembersihan awal. Akibatnya, gabah yang masuk masih bercampur dengan kotoran, batu kecil, atau gabah hampa, sehingga proses pengupasan dan pemolesan menjadi kurang optimal. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas beras, tetapi juga meningkatkan potensi kehilangan hasil (losses) selama proses penggilingan. Berdasarkan kajian Thahjohutomo et al. (2003) dalam Budiharti et al. (2008), perbaikan dapat dilakukan melalui penambahan atau upgrade komponen mesin. Misalnya, dengan menambahkan cleaner (C) sehingga konfigurasi berubah dari H–P menjadi C–H–P. Tahap pembersihan di awal ini memungkinkan gabah yang diproses menjadi lebih seragam dan bersih, sehingga proses pengupasan dan pemolesan berjalan lebih efisien. Perbaikan alur ini terbukti mampu meningkatkan rendemen sekitar ±2% hingga 2,4%. Lebih lanjut, penambahan komponen lain seperti separator (S) untuk memisahkan gabah yang belum terkupas, grader (G) untuk mengklasifikasikan ukuran beras, hingga integrasi dengan dryer (D) sebelum proses penggilingan, dapat semakin menyempurnakan alur produksi. Masing-masing komponen memberikan tambahan peningkatan rendemen secara bertahap (incremental), sekaligus menekan kehilangan hasil di setiap tahapan proses [Gambar 2].

Secara keseluruhan, peluang peningkatan rendemen di Sumatera masih terbuka lebar. Perbaikan di sisi hulu melalui pemupukan dapat memberikan tambahan 1–2%, sementara intervensi di hilir seperti penggunaan dryer dan optimalisasi RMU berkontribusi sekitar 2–4% (Raharjo et al., 2012). Dengan pendekatan terintegrasi, total peningkatan rendemen dapat mencapai 3–6%, setara dengan tambahan produksi beras sekitar 417 ribu ton.

Ke depan, kunci utama terletak pada optimalisasi hulu–hilir secara terpadu. Penguatan praktik budidaya, peningkatan teknologi pascapanen, serta modernisasi penggilingan perlu berjalan beriringan agar setiap tahapan dari gabah hingga menjadi beras dapat menghasilkan output yang lebih efisien dan berkualitas.

Dalam hal ini, Bank Indonesia turut mendorong penguatan ekosistem produksi melalui pendekatan terintegrasi. Dari sisi on-farm, dukungan difokuskan pada perluasan implementasi Good Agricultural Practices (GAP) di klaster pangan binaan, penguatan kapasitas SDM dalam manajemen pemupukan dan budidaya, serta peningkatan penggunaan sarana produksi (saprodi) berkualitas seperti benih unggul dan pupuk tambahan secara berimbang. Selain itu, modernisasi alat dan mesin pra panen juga didorong untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas hasil sejak tahap awal produksi. Sementara itu, di sisi off-farm, intervensi diarahkan pada modernisasi pascapanen, termasuk penyempurnaan konfigurasi RMU untuk meningkatkan rendemen. Penguatan kelembagaan seperti Sub Terminal Agribisnis (STA) juga dilakukan guna mendukung sistem pemasaran hasil panen yang lebih terintegrasi. Di samping itu, pengembangan fasilitas penyimpanan seperti warehouse menjadi penting untuk menjaga kualitas produk sekaligus memberikan fleksibilitas waktu jual bagi petani. Secara keseluruhan, berbagai upaya ini diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pasokan beras secara berkelanjutan, yang pada akhirnya diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga stabilitas harga dan mendukung pengendalian inflasi pangan di daerah.

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments