Menilik Defisit Ekspor Migas Indonesia yang Terus Membesar

 

Kinerja ekspor dan impor komoditas minyak dan gas (migas) Indonesia terus mengalami defisit dan makin membesar tiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor migas Indonesia terus mengalami penurunan dari 48,45 juta ton pada tahun 2012 menjadi hanya 27,12 juta ton pada tahun 2023. Sementara itu, dari sisi impor justru mengalami peningkatan dari 44,26 juta ton pada tahun 2012 menjadi 52,14 juta ton pada

tahun 2023. Hal ini berdampak pada defisit neraca ekspor migas Indonesia yang semakin membengkak tiap tahunnya. Ekspor migas Indonesia terus mengalami penurunan seiring dengan makin turunnya produksi domestik akibat natural declining. Di sisi lain, kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat membuat impor Migas terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Untuk bisa lepas dari defisit ini, diperlukan peningkatan ekspor hingga 92,26% dari nilai ekspor migas saat ini.

Grafik 1. Kinerja Ekspor dan Impor Migas Indonesia, 2012-2023

Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah

Indonesia memiliki peranan penting dalam supply chain komoditas Migas di ASEAN dan Asia Timur. Indonesia menjadi pengekspor migas ke beberapa negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Sementara itu, Indonesia juga menjadi pengekspor migas ke negara Asia Timur seperti China, Korea Selatan, dan Jepang. Sayangnya, Indonesia masih terus mengalami trade defisit yang berdampak pada tergerusnya cadangan devisa. Berdasarkan data International Trade Center (ITC), pada tahun 2023 ekspor komoditas migas Indonesia mengalami trade defisit hingga 25 juta ton. Terlebih, mayoritas impor migas Indonesia merupakan produk olahan yang memberikan nilai tambah lebih tinggi. Sementara itu, ekspor migas Indonesia masih didominasi produk mentah sehingga cadangan devisa yang tergerus maskin besar. Perbedaan kualitas komoditas ekspor dan impor migas tersebut tercermin dari rata-rata nilai ekspor migas sebesar US$ 591 per ton, lebih rendah dibandingkan rata-rata nilai impor migas sebesar US$ 691 per ton. Beberapa faktor penyebab kondisi ekspor dan impor migas tersebut diantaranya perbedaan karakteristik migas dalam negeri dengan kebutuhan industri domestik, infrastruktur migas dalam negeri yang masih terbatas dan belum terintegrasi secara nasional, kontrak jangka panjang ekspor LNG, dan kurangnya investasi dalam teknologi pemrosesan gas domestik.

Tabel 1. Negara Tujuan Ekspor dan Asal Impor Utama Komoditas Migas Indonesia, 2023

Sumber : International Trade Center, diolah

Untuk menanggulangi permasalahan di atas, pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan produksi migas domestik serta peningkatan nilai tambah komoditas migas dalam negeri. Upaya peningkatan produksi migas domestik dilakukan melalui upaya Development Drilling Program (DDP). Development Drilling Program (DDP) merupakan serangkaian kegiatan eksploitasi sumur migas yang bertujuan untuk mengembangkan sumur migas agar bisa memproduksi minyak atau gas secara komersial dan berkelanjutan. Adanya program ini dapat meningkatkan produksi migas dari reservoir, memaksimalkan recovery factor dari cadangan yang ditemukan, menjaga stabilitas tekanan reservoir dengan pengeboran sumur injeksi jika diperlukan, serta memperluas area produksi melalui pengeboran sumur di berbagai area lapangan yang teridentifikasi dalam studi reservoir. Kegiatan eksploitasi ini terdiri dari kegiatan Development Wells Drilling, Workover, dan Well Service. Kegiatan DDP tersebut terus ditingkatkan tiap tahunnya karena terbukti mampu menahan laju penurunan produksi migas.

Di sisi lain, peningkatan upaya onstream dan hilirisasi migas juga terus dilakukan. Pada tahun 2024, terdapat total 15 proyek onstream migas dengan CAPEX mencapai US$ 560,1 Juta dan potensi tambahan produksi minyak sebesar 46.837 BOPD dan produksi gas sebesar 351 MMSCFD. Sementara itu, di tahun 2025 direncanakan akan ada 15 proyek onstream migas dengan CAPEX mencapai US$ 753,2 Juta dan potensi tambahan produksi minyak sebesar 57.576 BOPD dan produksi gas sebesar 749,7 MMSCFD. Sementara itu, guna meningkatkan nilai tambah dari produksi migas, pemerintah juga berupaya untuk mendorong hilirisasi produk migas di Indonesia. Hal ini dilakukan memlalui beberapa Langkah seperti revitalisasi dan pembangunan kilang minyak, pengembangan industri petrokimia, pemanfaatan gas bumi untuk industri dan domestik, produksi dan pemanfaatan LNG (Liquefied Natural Gas), integrasi dengan energi alternatif, peningkatan infrastruktur distribusi, dan penyederhanaan perizinan dan dukungan kebijakan.

Kinerja ekspor dan impor migas Indonesia yang terus mengalami defisit dan semakin membesar perlu untuk diperhatikan mengingat terus meningkatnya kebutuhan migas domestik di tengah makin tergerusnya produksi migas domestik akibat natural declining. Potensi makin membesarnya defisit net ekspor migas ini perlu diminimalisir guna mengurangi beban cadangan devisa negara untuk membiayai kelebihan impor komoditas tersebut. Oleh sebab itu, upaya peningkatan produksi domestik dan upaya hilirisasi migas perlu untuk terus dilakukan pemerintah untuk memastikan kedaulatan energi Indonesia di masa depan.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments