Dibalik Tenangnya Perairan Sumatera: Tilapia Siap Jadi Primadona Ekonomi

Di antara tenangnya perairan danau dan laut wilayah Sumatera, tersembunyi salah satu potensi ekonomi paling menjanjikan dari Sumatera: ikan nila (tilapia). Bukan sekadar komoditas konsumsi, tilapia telah menjelma menjadi andalan ekspor perikanan budidaya dari Sumatera, khususnya Sumatera Utara.
Dari Perairan Lokal ke Meja Dunia
Meskipun secara total produksi perikanan menurun, perikanan budidaya di Sumatera mengalami peningkatan produktivitas. Produksi ikan di Sumatera mencapai 3,7 juta ton, mayoritas masih didominasi oleh perikanan tangkap. Namun, tren positif justru datang dari sektor budidaya, yang menunjukkan peningkatan produktivitas, terutama untuk ikan nila.
Ikan Tilapia menyumbang produksi perikanan budidaya terbesar dan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Sumatera. Sebagai komoditas budidaya terbesar di Sumatera, tilapia mencatatkan produksi sebanyak 517 ribu ton, dengan pusat utama di Sumut dan Sumbar. Bahkan, lebih dari 90% ekspor tilapia nasional berasal dari Sumatera Utara, menjadikan wilayah ini sebagai tulang punggung ekspor ikan nila Indonesia. Ekspor tilapia dari Sumatera pun bukan angka kecil: mencapai USD 93 juta atau setara 99% dari ekspor nasional, dengan produk utama berupa ikan fillet beku (97%). Ini menjadi sinyal kuat bahwa industri pengolahan tilapia punya modal kuat untuk tumbuh lebih besar.
Peluang Masih Terbuka Lebar
Meskipun kontribusi terhadap ekspor Sumatera tergolong signifikan — tilapia menyumbang sekitar 13% ekspor perikanan — namun tingkat penetrasi ekspornya masih rendah (sekitar 13,4%). Ini berarti ada ruang besar untuk memperluas pasar dan meningkatkan skala produksi. Amerika Serikat adalah pasar utama tilapia dunia, dan Indonesia saat ini menjadi pemasok terbesar kedua ke AS dengan pangsa pasar 16,45%, setelah Tiongkok (75,85%). Meskipun kompetitor baru seperti Honduras, Peru, Brazil, dan Kolombia mulai masuk ke pasar global, posisi Sumatera masih sangat strategis. Lebih jauh, potensi ekspor bukan hanya pada daging ikan, tetapi juga pada produk turunan dari bagian ikan lain yang bisa dikembangkan untuk pasar industri — termasuk untuk mendukung program zero economic waste dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hambatan Struktural Masih Menjadi PR
Potensi tilapia yang besar ini masih menghadapi berbagai tantangan. Infrastruktur menuju sentra produksi, jalur distribusi, dan akses ke pelabuhan belum sepenuhnya terintegrasi. Fasilitas pendukung seperti cold storage, unit pengolahan, dan teknologi budidaya ramah lingkungan masih terbatas. Kapasitas SDM pembudidaya juga menjadi tantangan, terutama dalam memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan ekspor. Di sisi regulasi, kebijakan pembatasan Keramba Jaring Apung (KJA) di danau-danau besar seperti Danau Toba dan Danau Maninjau menimbulkan tekanan tersendiri, khususnya karena 100% ekspor tilapia saat ini masih bergantung pada budidaya KJA. Upaya pencarian perairan alternatif, zonasi terpadu antara pariwisata dan budidaya, serta eksplorasi pemanfaatan PLTA sebagai area budidaya bisa menjadi solusi jangka menengah yang perlu didorong.
Pembiayaan dan Investasi: Titik Lemah yang Harus Diperkuat
Dari sisi finansial, pembiayaan sektor perikanan masih menemui hambatan. Penyaluran kredit menurun seiring meningkatnya risiko gagal bayar (NPL), dan pembudidaya kecil masih kesulitan memenuhi syarat untuk mengakses pinjaman. Sementara itu, investasi di sektor ini masih didominasi oleh penanaman modal dalam negeri (PMDN), dengan ruang yang sangat terbuka bagi investor baru, baik untuk pengolahan ikan maupun untuk ekspansi pasar.
Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengoptimalkan KUR untuk sektor unggulan seperti nila di Sumut,
- Mendorong terbentuknya kelompok usaha yang kuat melalui peran local champion,
- Mengoptimalkan sentra budidaya Nila melalui pengembangan kapasitas teknologi baru. Kampung Perikanan Budidaya yang telah dibentuk oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebaiknya ditingkatkan kapasitasnya dengan mengimplementasikan best practice Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang ramah lingkungan untuk menunjang keberlanjutan produksi tilapia selain di KJA danau yang saat ini terdapat kepentingan pariwisata;
- Memberikan insentif pajak dan investasi untuk industri pengolahan ikan yang padat karya dan berorientasi ekspor.
Sekarang, Saatnya Tilapia Jadi Strategi Besar Sumatera!
Tilapia telah membuktikan diri sebagai salah satu komoditas unggulan Sumatera yang punya daya saing tinggi di pasar global. Namun, potensi besar ini tidak akan berkembang maksimal tanpa dukungan infrastruktur, regulasi yang kondusif, SDM yang kompeten, dan pembiayaan yang tepat sasaran. Jika Sumatera mampu menyatukan kekuatan ini, maka tilapia bukan hanya soal ekspor ikan — tetapi bisa menjadi simbol keberhasilan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal yang turut menciptakan lapangan kerja dan mendukung program Asta Cita Pemerintah RI.