Menjaga Asa, Membangun Kembali Sumatera
Sumatera dihadapkan pada tantangan bencana hidrometeorologi di akhir 2025. Banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera akibat siklon Senyar pada November 2025, yang menyebabkan ribuan hunian rusak dan akses jalan terputus, termasuk sejumlah jembatan terdampak. Dari data BNPB per 5 Januari 2026, total rumah terdampak banjir di beberapa provinsi Sumatera mencapai lebih dari 175 ribu unit, dengan tingkat kerusakan bervariasi mulai dari rusak ringan hingga berat. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi wilayah dengan jumlah terdampak yang signifikan.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, satu hal yang tetap harus dijaga adalah asa—harapan untuk pulih lebih cepat dan tumbuh kembali lebih kuat. Proses pemulihan pascabencana pun menjadi titik krusial untuk memastikan harapan tersebut tetap hidup, melalui langkah nyata pembangunan kembali hunian, pemulihan infrastruktur dasar, serta penataan ruang yang lebih baik ke depan. Agenda pemulihan direncanakan bertahap, dimulai dari penyediaan hunian sementara hingga pembangunan rumah permanen yang lebih tahan bencana. Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Dana Tunggu ditargetkan pembangunannya hingga 15.000 unit pada Triwulan I 2026. Spesifikasi bangunan dirancang praktis namun fungsional, berupa rumah panggung berukuran sekitar 4,5 x 5 meter, dilengkapi fasilitas dasar seperti MCK, saluran air, penerangan, dan akses pedestrian. Diharapkan penyediaan hunian sementara ini dapat menjaga keberlangsungan kehidupan warga terdampak, sambil menunggu hunian permanen selesai dibangun.
Di tahap pemulihan jangka menengah, pembangunan rumah pascabencana dilakukan melalui pendekatan bantuan Pemerintah Pusat. Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman mengoordinasikan pembangunan 2.603 unit rumah di berbagai daerah terdampak, dengan Sumatera Utara menjadi lokasi pembangunan awal sebanyak 648 unit. Beberapa kabupaten seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Simalungun menjadi fokus karena tingkat kerusakannya cukup tinggi. Target penyelesaian dilakukan secara bertahap hingga Maret 2026 agar kualitas bangunan tetap terjaga. Proses konstruksi juga memanfaatkan teknologi konstruksi cepat seperti RISHA dan RUSPIN. Sebanyak 21 unit RISHA dan 2 unit RUSPIN dibangun di Aceh dan Sumatera Barat sebagai model hunian yang lebih tahan terhadap bencana. Teknologi ini menawarkan keunggulan dari sisi modularitas, kecepatan pembangunan, serta kemudahan replikasi di daerah lain, sehingga cocok diterapkan pada kondisi darurat pascabencana.
Di luar sektor perumahan, pemulihan infrastruktur dasar juga berjalan paralel. Tercatat 815 paket pekerjaan jalan dan jembatan ditangani di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan total anggaran mencapai Rp15,7 triliun. Infrastruktur transportasi menjadi prioritas karena berpengaruh langsung terhadap distribusi logistik, mobilitas warga, dan kelancaran pembangunan di sektor lain. Kecepatan pemulihan infrastruktur publik ini akan memberikan dampak ke ekonomi dengan kembali berputarnya roda aktivitas produktif masyarakat. Hal ini juga mendukung distribusi logistik pokok khususnya pangan yang krusial dalam konteks stabilitas harga dengan kelancaran pasokan.
Sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat terdampak, pemerintah juga menyalurkan bantuan langsung tunai. Hal ini dilakukan untuk mendukung perbaikan rumah, dengan nilai Rp15 juta untuk rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rusak berat. Bantuan ini diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi mandiri, sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat terdampak sambil menunggu penyelesaian administrasi pendataan resmi dari pemerintah daerah. Program kebijakan ini berpotensi membuka lapangan kerja sementara yang dibutuhkan oleh sejumlah anggota masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat bencana.
Pada akhirnya, pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Sumatera bukan semata tentang membangun kembali perekonomian, tetapi juga tentang menjaga asa. Di tengah keterbatasan dan tantangan yang dihadapi, sejumlah langkah kebijakan diarahkan untuk membangun kembali perekonomian Sumatera, mulai dari pembukaan lapangan kerja dan rehabilitasi fisik hunian, infrastruktur dasar. Namun, lebih dari hal itu keseluruhan upaya tersebut juga akan mengembalikan optimisme dan harapan atas prospek peningkatan harkat kehidupan masyarakat di masa depan.



