Dua Musim Kering dalam Satu Pulau

Sumatra seperti menyimpan dua kalender cuaca dalam satu pulau. Di bagian utara dan tengah, hujan datang dua kali dalam setahun, diselingi jeda kering yang juga muncul dua kali. Di bagian selatan, musim hujan dan kemarau lebih tegas. Hujan terkonsentrasi pada akhir dan awal tahun, sementara kemarau berjalan lebih panjang pada pertengahan tahun.

Perbedaan itu membuat El Niño di Sumatra tidak selalu datang sebagai panas yang seragam, begitu pun dengan pola hujan. Sumatra bagian utara dan tengah lebih banyak dipengaruhi pola hujan ekuatorial dengan musim hujan sebanyak dua kali dalam setahun.

Puncak hujan pertama biasanya terjadi sekitar Maret hingga Mei. Puncak kedua datang sekitar September hingga November. Di antara dua puncak itu, muncul dua jeda kering: pertama sekitar Februari, kedua sekitar Juni hingga Juli. Dalam kondisi normal, jeda kering itu mungkin masih dapat dikelola. Namun, ketika El Niño menguat, jeda yang semula pendek bisa terasa lebih tajam. Saluran air lebih cepat surut, lahan gambut lebih mudah mengering, dan risiko kebakaran lahan meningkat (BMKG, 2026).

Kondisi berbeda terlihat di Sumatra bagian selatan. Wilayah ini lebih dekat dengan pola hujan monsunal. Musim hujan lebih terkonsentrasi pada Desember hingga Februari. Setelah itu, wilayah selatan memasuki musim kemarau yang lebih jelas, biasanya berlangsung dari Juni hingga September, dengan puncak kering pada Agustus dan September (BMKG, 2026).

Perbedaan inilah yang membuat dampak El Niño terasa seperti bergeser dari satu wilayah ke wilayah lain.

El Niño sebagai penguat

El Niño kerap disebut sebagai penyebab kemarau panjang, meski El Niño tidak menciptakan pola kering yang sama di semua tempat. El Niño lebih tepat dibaca sebagai penguat dari pola kering yang memang sudah ada.

Di wilayah utara dan tengah Sumatra, El Niño memperkuat jeda kering yang muncul lebih awal. Ketika curah hujan menurun pada Februari atau Juni, dampaknya dapat terasa lebih besar dibandingkan tahun normal. Di wilayah selatan, El Niño bekerja dengan memperpanjang dan memperdalam kemarau monsunal yang mencapai puncaknya pada kuartal III (BMKG, 2026).

Sawah membaca panas dari air

Bagi petani, El Niño dibaca sebagai pertanyaan praktis: apakah air cukup?

Padi adalah tanaman yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Kekeringan tidak selalu berujung gagal panen, tetapi dampaknya sangat bergantung pada kapan kekeringan itu terjadi. Jika panas datang saat tanaman masih bisa menyesuaikan diri, dampaknya mungkin terbatas. Namun, jika kekeringan datang saat tanaman berada pada fase yang membutuhkan banyak air, kerugiannya bisa lebih besar.

Di sinilah waktu menjadi penting. Masa tanam III yang dimulai sekitar Mei membuat periode Juni hingga September menjadi fase yang perlu atensi. Di wilayah utara dan tengah, panas pada Juni dapat beririsan dengan proses tanam, tanam ulang, atau pemulihan lahan pascabencana. Di wilayah selatan, puncak panas Agustus dan September dapat beririsan dengan fase pertumbuhan tanaman pada musim tanam berjalan (Kementerian Pertanian, 2026).

Sementara itu, puncak tanam utama pada Oktober hingga Desember memiliki cerita yang berbeda. Tanam pada periode ini umumnya akan dipanen pada Maret tahun berikutnya. Artinya, gangguan pada akhir tahun tidak seluruhnya masuk ke produksi tahun yang sama. Sebagian menjadi risiko bawaan untuk tahun berikutnya.

Oleh karena itu, membaca dampak El Niño pada padi tidak bisa berhenti pada pertanyaan apakah El Niño terjadi atau tidak, melainkan pada locus dan tempus terjadinya termasuk puncaknya dan fase apa yang sedang dihadapi tanaman pada saat itu.

Risiko yang tidak bisa dirata-ratakan

Pemahaman tentang dua musim kering di Sumatra membawa satu pelajaran penting: risiko iklim tidak bisa dirata-ratakan.

Jika wilayah utara dan tengah lebih dulu menghadapi jeda kering, antisipasinya perlu lebih awal. Perhatian tidak hanya pada kekeringan, tetapi juga pada lahan yang masih dalam proses pemulihan, termasuk lahan terdampak bencana. Dalam pembahasan tanaman pangan, perlambatan kinerja padi Sumatra pada semester I 2026 terutama dikaitkan dengan dampak lanjutan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sebelum kemudian diperkirakan membaik secara bertahap pada semester II (Kementerian Pertanian, 2026).

Sebaliknya, di wilayah selatan, kesiapan perlu diperkuat menjelang Agustus dan September. Pada periode ini, pompanisasi, irigasi, benih, dan dukungan input menjadi lebih menentukan. Bukan hanya agar produksi tidak turun, tetapi juga agar biaya petani tidak melonjak terlalu tinggi.

Kebijakan yang seragam berisiko kurang tepat. Bantuan bisa datang terlalu dini di satu wilayah, tetapi terlambat di wilayah lain. Pompa bisa tersedia, tetapi tidak sesuai dengan sumber air. Benih bisa disalurkan, tetapi tidak cocok dengan kalender tanam. Irigasi bisa diperbaiki, tetapi tidak selesai ketika petani paling membutuhkannya.

El Niño 2026 memberi pelajaran sederhana: cuaca tidak hanya soal seberapa kering satu wilayah, tetapi juga kapan kekeringan itu datang. Di Sumatra, waktu dan tempat menjadi kunci. Sebelum El Niño muncul dalam angka produksi, harga pangan, atau pertumbuhan ekonomi, ia lebih dulu hadir dalam bentuk yang paling sederhana: air yang cukup, atau air yang mulai hilang dari sawah.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments